Jumat, 10 Juni 2011

Anak adalah Cinta

Seperti kembali ke masa kecil. Belajar menulis. Bedanya dulu memakai tangan sekarang pakai ketikan. Aku gugup...hahaha iya lah aku gugup karena ini tulisan pertamaku. Belajar sendiri tanpa ada yang mendampingi (maklum belum punya pendamping...hihi promosi dikit...=D)

Yup, yang namanya belajar sampai kita meninggal kita tetap harus menuntut ilmu alias belajar,apapun itu selama dalam kebaikan tentunya. Dulu aku pikir kesuksesan seorang siswa di sekolah akan membawanya sukses dalam hidup,ternyata aku salah total. Karena nilai atau IP yang bagus tidak menjamin seseorang akan bahagia bahkan sukses dalam meniti kehidupan walaupun ada beberapa yang memang bisa berhasil karena kesungguhannya.
Kita seringkali menilai anak nakal dan bodoh di sekolah adalah anak yang tidak penurut, madesu, atau apa lah. Tapi pernahkah kita mencoba untuk mengerti apa yang ada dalam pikirannya? Siapa tahu dia adalah calon ilmuwan, pemusik terkenal seperti om Iwan Fals, atau seperti Habibie, bahkan mungkin seperti Einstein......?? Berdo'a lah dan tetap bersabar lah menyikapi kenyataan karena anak adalah anugerah yang nantinya mengirim do'a ketika kita telah wafat, yang mewarisi ilmu dari leluhurnya, yang menjaga alam ini untuk turunannya. Janganlah meremehkan potensi anak, menghinanya, tidak meyakini bahkan menjatuhkan kepercayaannya. 

Gedung tinggi tidak akan berdiri kokoh tanpa pondasi yang kuat. Anak tidak akan menjadi seseorang jika orang tua tidak mengajarkan hal yang baik sejak dia kecil. Betapa dekatnya anak dengan ibunya ketika dalam kandungan, tapi betapa jauhnya dia ketika dia beranjak remaja. Orang tua sering memaksakan kehendak kepada anak tanpa bertanya dahulu apakah anak setuju atau tidak. Anak ingin menjadi tempat berbagi bukan tempat melaksanakan semua perintah orang tua yang tidak dia suka. Orang tua ingin anak yang berbakti tetapi pernahkah kita sebagai orang tua berbuat bakti kepada anak? Apakah orang tua pernah memberikan waktunya untuk bermain bersama anak? Pernahkah bertanya kepadanya apa saja yang terjadi di sekolah hari ini? Pernahkah membantunya mengerjakan PR? Pernahkah mencium keningnya saat tidur? Pernahkah memujinya saat dia mendapatkan nilai tertinggi di sekolah? Pernahkah merasa bangga saat anak bisa mengerjakan segala sesuatunya sendiri yang anak seumurnya belum berani melakukan?

Kita sering menuntut bahkan saat dia beranjak dewasa. Kita ikut menentukan pilihan pekerjaan apa untuknya tanpa mendengar alasan-alasan darinya, kita ikut menentukan jodoh untuknya. Memang ini tidak salah bahkan ini benar apabila dilakukan orang tua. Tapi kita harus bisa melihat ke dalam hati anak apakah selama ini dia bahagia atau hanya berusaha menyenangkan hati orang tuanya tanpa mempedulikan kebahagiaannya sendiri. Anak akan menghormati yang lebih tua jika yang tua menyayangi mereka dengan tulus. Kasih sayang orang tua tidak bisa diukur dengan materi saja. Ada nilai kehidupan yang harus diajarkan kepada anaknya bahwa hidup adalah kebersamaan. Mereka yang kini berhasil tentunya tidak lepas dari peran kasih sayang orang tuanya yang ikhlas dan sabar memberikan cintanya kepada anak sekalipun mereka hidup dalam kekurangan. Mereka adalah orang tua yang mempersembahkan segalanya untuk kebahagiaan buah hatinya, mereka menjual tanah warisan neneknya agar anaknya bisa bersekolah, mereka yang mencangkul sawah di bawah terik matahari agar anaknya bisa makan dan mengenyam pendidikan, mereka yang mengajak anaknya shalat berjama'ah dan tadarus, yang membangunkan buah hatinya dengan kelembutan ketika  adzhan subuh berkumandang,yang berkata lembut dan tidak keras kepada anaknya. Inilah orang tua yang nantinya memiliki anak kebanggaan, yang dihari tuanya tersenyum menikmati kesuksesan anaknya yang kini begitu mencintainya berkat perjuangan, cinta dan contoh kehidupannya.

Semoga kita menjadi anak dan orang tua yang berhati mulia dan berbudi luhur karena kesungguhan cinta ...........

Mohon maaf kalau artikelnya masih rada-rada gak nyambung karena baru pertama belajar =)